BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1.
Sambang Getih (Hemigraphis colorata)
Sambang getih bisa ditemukan tumbuh
liar atau ditanam di halaman dan taman-taman sebagai tanaman hias. Terna ini
mempunyai batang berbaring dan merayap, bulat, bercabang, berruas-ruas, dan
bervvarna unqu. Daun tunggal, bertangkai, letak berhadapan, helaian daun
bentuknya bulat telur, ujung runcing, pangkal rompang, tepi bergerigi,
pertulangan menyirip, permukaan atas warnanya merah ungu mengilap agak
keabu-abuan, bagian bawah merah anggur, berrambut, panjang 7–11 cm, lebar 4–6
cm. Bunga majemuk, berkumpul dalam rangkaian berupa bulir, keluar dari ujung
batang, mahkota bentuk corong, warnanya putih. Buah kecil, lonjong, warnanya
hijau muda. Biji kecil, pipih, warnanya putih. Nama Lokal :
NAMA DAERAH Sumatera: binalu api (Melayu). Jawa: remek daging. reundeu beureum
(Sunda), keci beling, sambang geteh, sarap (Jawa). Lire (Ternate). NAMA ASING –
NAMA SIMPLISIA Hemigraphis coloratae Folium (daun sambang getih).
2.
Sambung Nyawa
Sambung nyawa merupakan tanaman semak
semusim juga dapat mengobti penyakit ginjal. Sebuah hasil penelitian
menyatakan bahwa ekstrak etanol daun sambung nyawa mampu menghambat pertumbuhan
tumor pada mencit karena diinfus dengan benzpirena. Lebih jauh dinyatakan bahwa
pada dosis 2,23 mg/0,2 ml dan 4,46 mg/0,2 ml dari ekstrak heksan mampu menghambat
pertumbuh-an kanker. Sambung nyawa bersifat manis, tawar, dingin dan sedikit
toksik. Rasa manis mempunyai sifat menguatkan (tonik) dan menyejukkan
3.
Sirih Merah
Sirih merupakan tumbuhan obat yang
sangat besar manfaatnya. Ia mengandung zat antiseptik pada seluruh bagiannya.
Daunnya banyak digunakan untuk mengobati mimisan, mata merah, keputihan,
membuat suara nyaring, dan banyak lagi, termasuk disfungsi ereksi. Khasiat daun sirih sudah banyak
dikenal dan telah teruji secara klinis. Hingga kini, penelitian tentang tanaman
ini masih terus dikembangkan. Daun sirih bermanfaat untuk mengobati berbagai
penyakit. Berikut ini resep dari Kebun Tanaman Obat Karyasari tentang cara
pemanfaatan daun sirih untuk kesehatan.
BAB II
A.
SAMBANG GETIH (Hemigraphis colorata)
Sambang
getih bisa ditemukan tumbuh liar atau ditanam di halaman dan taman-taman
sebagai tanaman hias. Terna ini mempunyai batang berbaring dan merayap, bulat,
bercabang, berruas-ruas, dan bervvarna unqu. Daun tunggal, bertangkai, letak
berhadapan, helaian daun bentuknya bulat telur, ujung runcing, pangkal rompang,
tepi bergerigi, pertulangan menyirip, permukaan atas warnanya merah ungu
mengilap agak keabu-abuan, bagian bawah merah anggur, berrambut, panjang 7--11
cm, lebar 4--6 cm. Bunga majemuk, berkumpul dalam rangkaian berupa bulir,
keluar dari ujung batang, mahkota bentuk corong, warnanya putih. Buah kecil,
lonjong, warnanya hijau muda. Biji kecil, pipih, warnanya putih.
1.
Nama Lokal
:
NAMA DAERAH Sumatera: binalu api (Melayu).
Jawa: remek daging. reundeu beureum (Sunda), keci beling, sambang geteh, sarap
(Jawa). Lire (Ternate). NAMA ASING - NAMA SIMPLISIA Hemigraphis coloratae
Folium (daun sambang getih).
2.
Penyakit
Yang Dapat Diobati :
Herba berkhasiat penambah darah, penghenti
perdarahan (hemostatis), peluruh kencing (diuretik). EFEK FARMAKOLOGIS DAN
HASIL PENELITIAN Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi etilasetat daun sambang
getih dapat menghambat Staphylococcus aureus pada kadar 13, 26, 52, 78, dan 104
mg%. Kenaikan kadar berbanding lurus dengan daerah hambatan antibakteri. Juga
terdapat senyawa flavonoid pada daun sambang getih (Serly Sapulette, Fakultas
Farmasi, UGM, 1992).
3. Bagian
yang digunakan
Bagian tanaman yang digunakan sebagi obat
adalah daunnya.
4. Indikasi
Daun
digunakan untuk mengatasi:
1) air
kemih sedikit,
2) disentri,
3) wasir,
dan
4) perdarahan
setelah melahirkan.
5. Cara
pemakaian
Untuk obat yang diminum, tidak ada dosis
rekomendasi.
6.
Efek Farmakologis dan Hasil
Penelitian
Hasil uji
aktivitas antibakteri fraksi etilasetat daun sambang getih dapat menghambat
Staphylococcus aureus pada kadar 13, 26, 52, 78, dan 104 mg%. kenaikan kadar
berbanding lurus dengan daerah hambatan antibakteri. Juga terdapat senyawa
flavonoid pada daun sembang getih (Sarly Sapulette, Fakultas Farmasi,
7. Komposisi :
Daun mengandung flavonoid, polifenol,
tanin, kalium yang kadarnya tinggi dan rendah natrium. Batang mengandung
saponin dan tanin, sedangkan akar mengandung flavonoid dan polifenol
8. Contoh
pemakaian
1) Air
kemih sedikit
Cuci daun sambang getih segar
(20--30 g), lalu rebus dengan dua gelas air selama 25 menit. Setelah dingin,
saring dan minum sekaligus.
2) Disentri
Cuci daun sambang getih segar (tujuh
lembar), lalu rebus dengan segelas air sampai mendidih selama 15 menit. Setelah
dingin, saring dan minum sekaligus. Lakukan 2--3 kali sehari.
3) Wasir
Cuci segenggam daun segar, lalu
rebus dengan dua gelas air selama setengah jam. Setelah dingin, saring dan
minum. Rebus ampasnya sekali lagi untuk diminum pada sore hari.
B. SAMBUNG NYAWA()
Herba, berdaging. Batang memanjat, rebah, atau
merayap, bersegi, gundul, berdaging, hijau keunguan, menahun. Daun berbentuk
helaian daun, bentuk bulat telur, bulat telur memanjang, bulat memanjang,
ukuran panjang 3,5 - 12,5 cm, lebar 1- 5,5 cm, ujung tumpul, runcing, meruncing
pendek, pangkal membulat atau rompang. Tepi daun rata, bergelombang atau agak
bergigi. Tangkai daun 0,5 cm sampai 1,5 cm. Permukaan daun kedua sisi gundul
atau berambut halus. Perbungaan dengan susunan bunga majemuk cawan, 2- 7 cawan tersusun
dalam susunan malai (panicula) sampai malai rata (corymb), setiap cawan
mendukung 20-35 bunga, ukuran panjang 1,5- 2 cm, lebar 5-6 mm. Tangkai karangan
dan tangkai bunga gundul atau berambut pendek, tangkai karangan 0,5- 0,7 cm.
Brachtea involucralis dalam berbentuk garis berujung runcing atau tumpul,
panjang 0,3 - 1 cm. Lebar 0,6 - 1,7 cm, gundul, ujung berwama hijau atau coklat
kemerahan. Mahkota merupakan tipe tabung, panjang 1 - 1,5 cm, jingga kuningan
atau jingga. Benang sari berbentuk jarum, kuning, kepala sari berlekatan
menjadi satu. Buah berbentuk garis, panjang 4 - 5 mm, coklat. Daun mempunyai
susunan dan fragmen yang sesuai dengan sifat anatomi keluarga tumbuhan bunga
matahari (Asteraccae = Compositae). Waktu berbunga Januari - Desember. Di Jawa
perbungaan jarang ditemukan. Tumbuhan ini banyak ditemukan di Jawa pada
ketinggian 1 - 1200 m dpl, terutama tumbuh dengan baik pada ketinggian 500 m
dpl. Banyak ditemukan tumbuh di selokan, semak belukar, hutan terang, dan
padang rumput . Secara kultur jaringan, eksplan yang terbaik untuk penumbuhan
kalus G. procumbens adalah tangkai daun yang ditaburkan. Media yang terbaik
untuk penumbuhan kalus adalah media RTK yaitu media RT dengan air kelapa 10%.
Pemberian kombinasi pupuk N dan P memberikan pengaruh nyata terhadap
peningkatan hasil produksinya. Pemakaian BA 1 - 4 mg/l memberikan kondisi yang
baik untuk multiplikasi tunas. Cara perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan
menggunakan stek batang. Pertumbuhan batang dan daun cepat sehingga dapat segera
dimanfaatkan. Tanaman akan tumbuh baik pada tempat ternaungi karena helaian
daun lebih tipis dan lebar, sehingga lebih enak untuk dimakan segar.
1. Penyakit
Yang Dapat Diobati :
Minyak
atsiri daun Sambung nyawa yang diencerkan dengan etilasetat (1:6) dapat berefek
positif menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, Namun E. coli tidak
dihambat oleh minyak atsiri pada pengenceran yang sama secara in vitro.
Pemberian ekstrak daun yang larut dalam etanol daun G. procumbens dengan dosis
setara dengan 100 g dan 200 g tanaman per mencit, 2 kali seminggu selama 8
minggu, secara nyata menurunkan jumlah nodul tumor per paru, maupun prosentase
mencit yang terkena tumor karena benzo(a) piren. Fraksi residu ekstrak daun G.
Procumbens yang dilarutkan dalam etanol mempunyai aktivitas biologis terhadap
sel vero dengan kadar hambat minimal 4026 µg/ml, terhadap sel mieloma dengan
LC50 187 µg/ml. Sari daun yang larut dalam air dapat menurunkan kadar glukosa
darah pada tikus normal Sambung nyawa mengandung asparaginase dengan aktivitas
spesifik 0,0175 ? 0,0080. Waktu inkubasi untuk menentukan aktivitas
asparaginase Sambung nyawa adalah 40 menit. Lamanya waktu inkubasi berpengaruh
terhadap aktivitas asparaginase Sambung nyawa. Selain waktu inkubasi, pH
mempengaruhi aktivitas asparaginase Sambung nyawa dan aktivitas tertinggi pada
pH 8,6 yaitu 1,64? 0,232 g NH3 / menit / mg protein. Toksisitas Ekstrak daun G.
Procumbens yang larut dalam etanol memiliki LC50 < l000 µg/ml, (toksisitas
tinggi), dan mempunyai aktivitas biologis yang hampir sama terhadap sel vero
dengan kadar hambat minimal 1753 µg/ml, dan terhadap sel mieloma dengan LC50 72
g/ml. Fraksi yang larut dalam kloroform ekstrak etanol terdapat senyawa yang
bersifat mutagenik. LD50 ekstrak daun sambung nyawa yang larut dalam etanol
secara oral pada mencit adalah 5.556 g/kg BB . Sari daun yang larut dalam air,
metanol, petroleum eter, kloroform G. Procumbens (Lour.) Merr., relatif kurang
toksis terhadap larva Artemiasalina Leach. Senyawa yang larut dalam CCl3 dari
ekstrak alkohol batang G. procumbens bersifat mutagenik.
2. Komposisi :
Daun
mengandung 4?senyawa flavonoid, tanin, saponin, steroid (triterpenoid) Metabolit
yang terdapat dalam ekstrak yang larut dalam etanol 95% antara lain asam
klorogenat, asam kafeat, asam vanilat, asam p?kumarat, asam p?hidroksi benzoat.
Hasil analisis kualitatif dengan metode kromatografi lapisan tipis dapat
dideteksi keberadaan sterol, triterpen, senyawa fenolik (antara lain
flavonoid), polifenol, dan minyak atsiri. Komponen minyak atsiri paling sedikit
terdiri dari 6 senyawa monoterpen, 4 senyawa seskuiterpen, 2 macam senyawa
dengan ikatan rangkap, 2 senyawa dengan gugus aldehida dan keton. Hasil
penelitian dalam upaya isolasi flavonoid dilaporkan keberadaan 2 macam senyawa
flavonoid yaitu bercak 1 terdiri dari 2 buah senyawa flavonol dan auron;
sedangkan pada bercak 11 diduga kaemferol (suatu flavonol). Senyawa yang
terkandung dalam etanol daun antara lain flavon / flavonol (3?hidroksi flavon)
dengan gugus hidroksil pada posisi 4',7 dan 6 atau 8 dengan substitusi gugus
5?hidroksi. Bila senyawa tersebut suatu flavonol, maka gugus hidroksil pada
posisi 3 dalam keadaan tersubstitusi. Di samping itu diduga keberadaan
isoflavon dengan gugus hidroksil pada posisi 6 atau 7,8 (cincin A) tanpa gugus
hidroksil pada cincin B .
3. Kegunaan dimasyarakat
Batang
tanaman Sambung nyawa sering digunakan untuk menurunkan demam. Sambung nyawa
juga digunakan dalam upaya penyembuhan penyakit ginjal, disentri, infeksi
kerongkongan, di samping itu digunakan pada upaya menghentikan perdarahan,
mengatasi tidak datang haid dan gigitan binatang berbisa.
Umbi
untuk menghilangkan bekuan darah (haematom), pembengkakan, patah tulang, dan
perdarahan setelah melahirkan.
4.
Cara
pemakaian dimasyarakat
Untuk
mengatasi gigitan ular / serangga digunakan daun dan umbi tumbuhan Sambung
nyawa 1 batang, kunyit sebesar telur ayam 1 biji. Kunyit dikupas, dicuci
kemudian ditumbuk bersama bahan lain hingga lembut. Tempelkan pada luka dan
dibalut dengan air bersih.
Untuk
mengatasi muntah darah / perdarahan rahim digunakan pohon Sambung nyawa dan
umbinya 1 batang, kunyit 1 jari, kayu secang (tua) yang telah diserut 1/4
genggam. Kunyit dikupas, diiris tipis, kemudian direbus bersama bahan lainnya
dengan air 2 gelas hingga tinggal 1 1/2 gelas. Angkat dan saring, diminum 2
kali sehari ½ gelas.
Untuk
penyembuhan bisul digunakan daun Sambung nyawa segar 8 gram dicuci, ditumbuk
sampai lumat. Kemudian ditempelkan pada bisul.
C. TANAMAN
SIRIH MERAH
1.
klasifikasi
sirih merah
Klasifikasi tanaman sirih merah adalah sebagai berikut
:
Kingdom :
Plantae
Divisio :
Maqnoliophyta
Class :
Maqnoliopsida
Ordo :
Piperales
Famili :
Piperaceae
Genus :
Piper
Spesies : Piper crocatum Ruiz dan Pav
2.
Diskriptif
Tanaman
1)
Batan
Batangnya bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga.
Permukaanya kasar dan bila terkena cahaya akan cepat mengering. Batangnya
bersulur dan beruas dengan jarak buku 5-10 cm. Di setiap buku tumbuh bakal akar
(Sudewo, 2010).
2)
Daun
Daunnya bertangkai membentuk jantung
dengan bagian atas meruncing, bertepi rata, dan permukaannya mengilap atau
tidak berbulu. Panjang daunnya bisa mencapai 15-20 cm. Warna daun bagian atas
hijau bercorak warna putih keabu-abuan. Bagian bawah daun berwarna merah hati
cerah. Daunnya berlendir, berasa sangat pahit, dan beraroma wangi khas sirih
(Sudewo, 2010).
4)
Akar
Akar daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz dan Pav) adalah akar
tunggang yang bentuknya bulat dan berwarna coklat kekuningan (Sudewo, 2010).
5)
Tempat Hidup
Tanaman sirih merah tergolong langka
karena tidak tumbuh di setiap atau daerah. Srih merah tidak dapat tumbuh sebur
di daerah panas. Sementara itu, di tempat berhawa dingin sirih merah dapat
tumbuh dengan baik. Jika terlalu banyak terkena sinar matahari, batangnya cepat
mengering, tetapi jika disiram secara berlebihan akar batang cepat membusuk.
Tanaman sirih merah akan tumbuh dengan baik jika mendapatkan 60-70% cahaya
matahari (Sudewo, 2010).
3.
Manfaat
Rasa pahit yang dimiliki oleh sirih
merah memberikan manfaat pada manusia. Efek zat aktif yang terkandung dalam sirih
merah pencegah ejakulasi dini, antikejang, antiseptik, analgetik, antiketombe,
antidiabetes, pelindung hati, anti diare, mempertahankan kekebalan tubuh, dan
penghilang bengkak. Daun sirih merah juga mampu mengatasi radang pau-paru,
radang tenggorokan, radang pada gusi, radang pada payudara, hidung berdarah dan
batuk berdarah (Sudewo, 2010). Tumbuhan yang mengandung senyawa bioaktif antara
lain alkaloid, terpenoid, steroid, asetogenin, fenil porpan, dan tannin dapat
berfungsi sebagai insektisida. Daun sirih merah dapat digunakan sebagai
insektisida nabati karena memiliki kandungan senyawa fitokimia yakni alkaloid,
saponin, tanin dan flavonoid (Manoi, 2007).
4.
Kandungan
Aktif
Kandungan aktif tanaman sirih merah
belum diteliti secara detail. Dari hasil kromatogram diketahui daun sirih merah
mengandung flavonoid, senyawa polevenolad, tanin, dan minyak atsiri (Sudewo,
2010).
1)
Flavonoi
Senyawa-senyawa flavonoid adalah
senyawa-senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon, terdiri dari dua
cincin benzena yang dihubungkan menjadi satu oleh rantai linier yang terdiri
dari tiga atom karbon. Senyawa flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian
tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, bunga, buah, dan biji.
Kebanyakan flavonoid ini berada di dalam tumbuh-tumbuhan, kecuali alga
(Doloksaribu, 2011).
2)
Saponin
Saponin adalah glikosida triterpena
dan sterol dan telah terdeteksi dalam lebih dari 90 suku tumbuhan. Saponin
merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun, serta dapat
dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis sel darah
merah.
3)
Tanin
Tanin merupakan salah satu senyawa
metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman dan disintesis oleh tanaman.
Tanin tergolong senyawa polifenol dengan karakteristiknya yang dapat membentuk
senyawa kompleks dengan makromolekul lainnya. Tanin dibagi menjadi dua kelompok
yaitu tanin yang mudah terhidrolisis dan tanin terkondensasi. Tanin yang mudah
terhidrolisis merupakan polimer gallic atau ellagic acid yang
berikatan ester dengan sebuah molekul gula, sedangkan tanin terkondensasi
merupakan polimer senyawa flavonoid dengan ikatan karbon-karbon (Westendarp, 2006) (Sofyan, 2008).
4)
Minyak atsiri
Minyak atsiri adalah cairan jernih
berbau seperti tanaman asalnya. Biasanya terdapat dalam kelenjar minyak,
pembuluh-pembuluh sekresi atau rambut kelenjar dari kelenjar aromatis. Kegunaan
minyak atsri bagi tanaman sendiri adalah menolak kehadiran binatang. kebanyakan
minyak atsiri bersifat anti bakteri dan anti jamur yang kuat. Minyak atsiri
berperan sebagai antibakteri dengan cara mengganggu proses terbentuknya membran
atau dinding sel sehingga tidak terbentuk atau terbentuk tidak sempurna
(Juliantina dkk, 2009).
DAFTAR PUSTAKA
Ø
Juliantina R, Farida, Dewa Ayu
Citra, Bunga Nirwani, Titia Nurmasitoh, Endarwati
Ø
Tri Bowo. 2009. “Manfaat Sirih Merah
(Piper crocatum) Sebagai Agen Anti
Bakterial Terhadap Bakteri Gram positif dan Gram Negatif”. Jurnal Kedokteran
dan Kesehatan Indonesia.